Eksodus DeutroMalayu abad ke 5 -2 SM

Anak Bangsa Nusantara merupakan orang-orang yang Eksodus dari dataran Tiongkok, DTT Yunan dan india timur semenjak abad ke 5 SM hingga abad ke 1 SM sebagai akibat kekerasan dan kekejaman politik, sektarian, keagamaan yang tak henti-hentinya dilakukan oleh bangsa-bangsa di daratan Benua yang sangat beragam /Plural. Dan salah satu bangsa yang terkejam adalah bangsa Han yang akhirnya berhasil mendirikan kerajaan super  yaitu kerajaan Dynasty Han yang mampu bertahan selama 4oo tahun.
Bangsa-bangsa Non Han yang akhirnya dikenal sebagai Bangsa Austronesia melarikan diri ke arah selatan melalui jalur darat maupun lautan. Melalui laut melintasi pulau Formosa (Taiwan) terus bergerak ke Selatan ke Philipina hingga sampai ke kepulauaan Nusantara dan Fasifik. Jalur Darat melewati Yunan terus lewat sungai mekong dan irawadi dan ada yang bermukim dan membangun kampung bahkan kerajaan yang biasanya berbentuk konfederasi (bukan monarchi absolut, ini ciri utama peradaban deutromalayu) seperti di Yunan, Pattani dan Champa mereka tetap bertahan, kemungkinan ditugaskan untuk menjadi jalur pengaman bagi saudara-saudaranya yang lain menuju Nusantara untuk waktu selanjutnya.Resiko yang mereka hadapi tidak hanya tentara Dynasty Han akan tetapi juga ancaman orang-orang siam, burma, dan vietnam.
Diperkirakan terjadi tiga tahap Eksodus Etnis DeutroMalayu ke kepulauan Nusantara. Tahap pertama sekitar abad ke 5 SM dan mereka sampai di Pulau Jawa, Selandia Baru, dan kepulauan Pasifik. Tahap kedua terjadi sekitar abad ke 4 SM dan mereka sampai di Pesisir Sulawesi, Madura dan Madagaskar. Dan Tahap Ketiga terjadi eksodus besar-besaran sekitar abad ke 3-2 SM dan mereka sampai di Sumatera. Tahap terakhir ini terjadi bersamaan dengan memuncaknya kekejaman bangsa Han dengan tampilnya Bangsa Han menjadi Penguasa Tunggal Daratan Tiongkok dan di masa yang sama pula Balatentara Hellenistik dan Budhisme juga merangsek ke Timur dan Tiongkok Selatan/Yunan.

Yunan (Cina Selatan)
Yunan adalah daerah transit bagi pelarian etnis deutromalayu selain champa. Pada Eksodus tahap ketiga ini orang-orang yang bermigrasi sebagian besar adalah dari golongan terpelajar dan bangsawan dari kalangan Deutromalayu. Pada masa ini berkemungkinan terjadi asimilasi budaya dalam kalangan masyarakat deutromalayu ini di daerah transit dengan Budhisme dan Hellenistik secara damai.
Konsekuensinya mereka sepakat untuk mengimplementasikan budaya baru dan identitas baru mereka tersebut di tanah / Pulau Sumatera. Pulau yang terbukti tidak terhubung dengan benua yang tidak bisa dijangkau oleh ancaman infanteri /kaveleri Tentara Bangsa Han yang tidak akan pernah membiarkan etnis deutromalayu untuk membangun kekuatan dan peradabannya kembali.
Diantara yang bisa bertahan adalah Bangsa Champa yang memiliki ikatan yang kuat dengan etnis malayu-minang di Sumatera. Kerajaan Champa (bahasa Vietnam: Chiêm Thành) adalah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan, diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832. Sebelum Champa, terdapat kerajaan yang dinamakan Lin-yi (Lam Ap), yang didirikan sejak 192, namun hubungan antara Lin-yi dan Campa masih belum jelas. Komunitas masyarakat Champa, saat ini masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Bahasa Champa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 4 =